Anggayuda

| Anggayuda  | Alumni Jurusan Kimia ITB |

aye

Pengusaha Muda Binaan GIMB Anggayudha

 

“Awalnya cuma sekedar hobby dan mencari penghasilan tambahan untuk membayar biaya kuliah.” Sahut pria alumni jurusan Kimia ITB dan salah satu member GIMB (Gerakan Indonesia Muda Berbisnis) ini saat ditanya dari mana bisnis yang sedang dibangun ini dimulai. Setelah sekitar 2 tahun mengajar dari rumah ke rumah melalui lembaga bimbingan belajar IPA eksklusif NATC, pria yang kerap disapa ‘Aye’ ini dipercaya untuk mengelola dan mengembangkan bisnis itu hingga saat ini.

Dengan modal  pengalaman 4 tahun mengajar dan passion berkontribusi untuk memperbaiki pendidikan khususnya pendidikan matematika & IPA, Aye mulai mengembangkan bisnisnya secara bertahap. Awalnya hanya bisnis privat yang bermodalkan jaringan teman-teman, serabutan, tanpa kurikulum, tanpa sistem kontrol dan tanpa kantor. Namun kini di bawah payung Conscience Corporation nilai omzetnya telah mencapai ratusan juta/tahun dengan total karyawan lebih dari 50 orang, ratusan siswa binaan dan telah menjalin kerjasama dengan beberapa sekolah di Kota Bandung maupun luar Bandung.

Ada yang unik dalam mengembangkan konsep pembelajaran yang diusung oleh Aye dkk melalui lembaga pendidikannya. Tidak seperti bisnis di bidang edukasi seperti layaknya banyak lembaga bimbingan belajar lainnya yang lebih sering mengedepankan hasil (cara cepat, cara praktis, rumus singkat), justru Aye dkk mengembangkan metode tutorial belajar yang mengedepankan pemahaman konsep dibandingkan sekedar rumus belaka dan keterlibatan aktif siswa dalam belajar.

Pada mulanya konsep ini ditolak mentah-mentah oleh kebanyakan segmen pasar. Sebab metode belajar yang dikembangkan dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan pasar yang ingin serba instan & praktis. Banyaknya pendaftar dapat dihitung dengan jari. Bahkan ada member yang sempat keluar dari program pembinaan & meminta kembali uang yang dibayarkan karena merasa kebutuhannya belajar praktis tidak terpenuhi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Alhamdulillah ternyata jumlah member meningkat secara perlahan. Publik mulai memahami bahwa cara dan metode belajar instan tidak menjawab persoalan pendidikan. Sehingga terbukti bahwa metode yang diusung semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat.

“Saya berharap bahwa suatu saat nanti gagasan tentang belajar anti instan ini semakin diterima oleh masyarakat luas dan mengubah mindset pendidikan kita di Indonesia. Bahwa pendidikan adalah sebuah proses, bukan sekedar nilai yang tertera pada selembar kertas yang hampa makna.” Begitu tuturnya saat ditanya apa yang diharapkan di tahun mendatang.

Di sela-sela perbincangan ia juga menyampaikan bahwa keberadaan GiMB sangat membantunya dalam mengimplementasikan gagasan-gagasan besar yang diusung oleh perusahaannya menjadi tataran-tataran implementatif yang jelas dan terukur. Ia yakin betul ketika gagasan brilian itu tidak dibingkai dalam sebuah kerangka berpikir yang runut, logis dan analitis maka Insya Allah gagasan itu hanya akan berujung pada sebuah kesia-siaan. “Dan itu semua saya dapatkan dalam mentoring GiMB. Terima kasih GiMB!” tuturnya singkat dan padat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>