Pengembangan Entrepreneur di Jawa Barat, HU Bisnis Bandung 12 Juli 2013

Pengembangan Entrepreneur di Jawa Barat

Meriza Hendri,
Mahasiswa Program Doktor Manajemen Bisnis, Unpad
Dosen Universitas Widyatama, bandung, Dewan pembina GIMB Foundation

Tingginya minat para anak muda untuk menjadi entrepreneur di Jawa Barat adalah fenomena yang sangat menarik dan patut untuk disyukuri. Perjalanan ke berbagai kota dan Kabupaten di provinsi ini menunjukkan fakta bahwa memang para anak muda di Jawa Barat ingin menjadi entrepreneur.

Namun demikian, kondisi ini perlu dicermati dengan baik. Hal ini baru sampai pada tahap minat dan sedikit yang menjalankan bisnis dengan baik. Apalagi bisnis yang bisa tumbuh dan berkembang dari mikro, kecil, menengah dan menjadi besar. Bila bisa tumbuh dan berkembang bisnisnya, barulah para anak muda memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Jawa Barat. Hal ini bukan karena ketidakmampuan mereka, tetapi, belum optimalnya sinergi dari para stakeholder di Jawa Barat untuk berintegrasi menumbuhkembangkan para entrepreneur muda tersebut.

Tiga stakeholder utama yang perlu melakukan sinergi dalam pengembangan entrepreneur muda adalah academician (akademisi), Business (para pelaku bisnis) dan Government (pemerintah) yang sering disebut dengan ABG. Selama ini, masing-masing pihak sudah melakukan pengembangan entrepreneurship di Jawa Barat.

Para akademisi di kampus dan sekolah memiliki program pengembangan entrepreneurship melalui kurikulum, pelatihan dan pembinaan melalui berbagai kegiatan mahasiswa dan siswa di kampus dan sekolah. Demikian juga para pelaku usaha yang memiliki program Corporate social responsibility (CSR) dan juga Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) oleh BUMN ataupun program yang dijalankan oleh asosiasi seperti HIPMI dan juga KADIN.

Demikian juga dengan pemerintah yang membuat berbagai kebijakan yang bersentuhan dengan pengembangan entrepreneurship tersebut. Selain kebijakan, pemerintah juga bekerjasama dengan pelaku bisnis dalam pengembangannya. Akan tetapi, kenapa hasilnya belum optimal dalam menghasilkan entrepeneur yang memiliki bisnis yang terus tumbuh dan berkembang?

Belum optimalnya sinergisitas antara para akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah dalam menumbuhkembangkan entrepreneur di Jawa Barat ini perlu menjadi perhatian. Khususnya dalam melakukan pembinaan kepada para entreprepreneur muda ini. Khusus mengenai pembinaan, pengalaman di GIMB Foundation (Gerakan Indonesia Muda Berbisnis) memperlihatkan bagaimana konsep pembinaan menjadi sangat stratejik. Hal ini adalah kerjasama dengan Jabar Media Club, Bank BJB, HIPMI Jabar dan Kadin Jabar, Bandung TV, Harian Bisnis Bandung, kampus dan berbagai pihak lainnya.

Demikian juga dengan pengalaman dalam pembinaan para Bobotohnomic yang digerakkan oleh Radio Bobotoh FM dan QP Indonusa dalam membina entrepreneur tersebut menjadi key success factor untuk menumbuhkembangkan entreprepeneur tersebut.
Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan sinergisitas ABG tersebut. Para akademisi memiliki resources yang baik dalam memberikan pelatihan dan pembinaan para entrepreneur. Diantaranya adalah dosen yang kebanyakan saat ini adalah pelaku bisnis juga, materi dan metode pengajaran dan pembinaan.

Kemudian, para praktisi yang sudah berhasil dalam bisnis mereka. Dari aspek pendanaan, ada perbankan dan perusahaan dengan dana CSR atau PKBL mereka. Dari aspek pengalaman dan relasi, ada pelaku bisnis itu sendiri dan juga HIPMI dan KADIN. Dari aspek pemasaran, ada perusahaan yang bisa berperan sebagai buyer dan media cetak dan media elektronik yang bisa membantu mempromosikan produk para entrepreneur.

Adapun dari pemerintah, memiliki wewenang dalam pembuatan regulasi untuk mendorong terciptanya stabilitas politik, ekonomi dan berbagai peraturan yang berhubungan dengan perekonomian dan juga berbagai kemudahan, khususnya dalam pendirian usaha.
Bagaimana dengan Jawa Barat? Banyak perguruan tinggi di provinsi ini. Hampir semua memiliki program pengembangan entrepreneurship. Demikian juga SMK dan sederajat. Potensi ini perlu disinergikan dengan Business dan Government.

Apalagi perusahaan di provinsi ini. Perusahaan asing dan perusahaan domestik banyak di Jawa barat. Mereka memiliki program CSR dan PKBL bagi BUMN. Belum lagi perbankan milik BUMN dan Bank BJB serta bank swasta. Program-program mereka perlu diintegrasikan dalam hal pendanaan buat entrepreneur. Apalagi KADIN Jabar dan HIPMI Jabar yang memiliki potensi untuk berbagi dengan para entrepreneur muda. Dari sisi media, ada banyak media cetak dan media elektronik yang concern kepada pengembangan entrepreneurship.

Pengalaman dalam melakukan sinergi ABG tersebut di Kabupaten Garut sudah membuktikan bahwa para entrepreneur yang sukses dengan indikator bisnis yang terus tumbuh dan berkembang tersebut memang sangat efektif. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Bank BJB dan Kadin Garut sebagai business, Pemerintah Garut sebagai Government dan Universitas Widyatama sebagai academician.

Setahun setelah pelatihan dilaksanakan, para entrepreneur sudah memiliki bisnis yang jauh lebih baik dibandingkan sebelum mereka mendapatkan pelatihan dan pembinaan selama tiga bulan dan dilanjutkan dengan pemantauan kepada mereka.

Oleh karena itu, potensi dari akademisi, pebisnis serta pemerintah Jawa Barat serta Kabupaten/Kota perlu dioptimalkan sinergi nya untuk mendapatkan entrepreneur muda yang memiliki bisnis selalu tumbuh dan berkembang sehingga memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian Jawa Barat. .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>