Pergantian Kepemimpinan di Kota Bandung, HU Bisnis Bandung 5 Juli 2013

PERGANTIAN KEPEMIMPINAN DI BANDUNG DAN PELUANG PENGEMBANGAN ENTREPRENEUR
Meriza Hendri,
Mahasiswa Program Doktor Manajemen Bisnis, Unpad
Dosen Universitas Widyatama, bandung, Dewan pembina GIMB Foundation

Pergantian Kepemimpinan di Kota Bandung

Tak terasa, hampir dua minggu berlalu pesta demokrasi di Kota Bandung yaitu pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Bandung yang baru. Pemilihan yang diikuti oleh delapan pasang calon. Semuanya berkomitmen kepada Kota Bandung yang lebih baik kedepannya. Dan berdasarkan hitung cepat atau quickcount, suara terbanyak didapat oleh Kang Emil dan Kang Oded.

Terlepas siapapun yang nantinya memimpin Kota Bandung, pastinya mereka memiliki komitmen yang lebih baik untuk kota kembang. Tentu masyarakat Kota Bandung mencatat setiap janji para Calon Walikota dan Wakil Walikota sewaktu mereka berkampanye dulu.
Salah satu yang menarik bagi kita selaku entrepreneur adalah bagaimana komitmen mereka terhadap pengembangan entrpreneurship di Kota Bandung. Hal ini relevan dengan isu utama dalam pengembangan ekonomi di Kota Bandung. khususnya yang digerakkan oleh para entrepreneur yang secara jelas terus berkembang dan meningkat jumlahnya di Kota Kembang ini.

Dalam pergantian kepempinan ini diharapkan bisa memberikan kontribusi positif bagi para entrepreneur. Kontribusi yang nantinya bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas para entrepreneur yang memang mereka sudah memiliki komitmen untuk berhasil dalam bisnis mereka. Hal ini adalah dasar bagi para entrepreneur kedepannya. Adanya minat yang kuat, akan tetapi mereka seringkali terhalang untuk menumbuhkembangkan bisnis mereka untuk jangka waktu yang lama.

Seringkali minat yang tinggi dari para entrepreneur tersebut terkesan terhambat untuk berkembang dan ini membuat bisnis mereka mati sebelum berkembang sesuai yang seharusnya.

Permasalahan utama yang semoga bisa diatasi adalah berhubungan dengan legal formal usaha para entrepreneur. Para entrepreneur membutuhkan dukungan politik dari pemerintah. Bagaimana lembaga terkait khususnya yang berhubungan dengan pembentukan badan hukum ataupun badan usaha para entrepreneur. Itu yang pertama.

Pengalaman para entrepreneur dalam mendirikan bisnis seringkali terhadang oleh banyaknya dan lamanya birokrasi. Hal ini membuat kendala yang sangat mendasar bagi para entrepreneur. Belum adanya kesamaan komitmen daripara pemangku kepentingan menjadi penghalang besar pada aspek ini.

Dengan adanya kepemimpinan yang baru ini, sangat diharapkan mampu mendorong lembaga terkait untuk bersinergi membangun entrepreneurship di Kota Kembang ini lebih cepat. Kecepatan dalam pengurusan badan hukum ataupun badan usaha berupa surat ijin akan mendorong percepatan pengembangan entrepreneurship tersebut.

Kedua, berhubungan dengan lembaga keuangan yang akan menjadi salah satu penopang bagi para entrepreneur dalam mengembangkan bisnis mereka. Saat ini, para entrepreneur terkesan sendiri dalam menghadapi lembaga keuangan. Lembanga keuangan selalu berdalih mereka harus mengikuti peraturan dari Bank sentral yaitu Bank Indonesia.

Disatu sisi, hal itu memang tidak bisa di lewati begitu saja. Memang harus dipatuhi. Akan tetapi, diharapkan pemimpin baru Kota Bandung bisa mencari terobosan yang akan dapat menjadi back up dari para entrepreneur di Kota bandung.

Entrepreneur ini kebanyakan adalah anak muda yang seringkali menghadapi kendala dalam pendanaan dari lembaga keuangan. Diharapkan nantinya, dengan kontribusi pemerintah Kota Bandung, apakah melalui proses seleksi ataupun pembinaan yang sudah dilakukan, akan bisa memberikan pertimbangan dari lembaga keuangan untuk memberikan kredit kepada para entrepreneur.

Selain itu, ada juga program dari perusahaan-perusahaan berupa Corporate Social Responsiblity atau CSR yang bisa dimanfaatkan untuk membantu entrepreneur di Kota Bandung. Hal ini bisa menjadi prioritas untuk diberikan kepada anak muda di kota ini dalam berbisnis.

Ketiga, pembinaan perlu diberikan kepada para entrepreneur. Perlu diketahui bahwa anak muda di bandung sudah memiliki motif yang tinggi untuk menjadi entrepreneur. Tidak hanya dikalangan mahasiswa saja, akan tetapi sudah sampai kepada para siswa dari sekolah menengah atas atau sederajat. Kegiatan komunitas yang kami temui di Gerakan Indonesia Muda Berbisnis (GIMB) ataupun HIPMI Jabar juga mendapatkan fakta bahwa para anak muda tersebut memiliki minat yang tinggi untuk berbisnis.

Fakta ini harus disyukuri. Akan tetapi, berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, mereka memiliki keterbatasan dalam knowledge bisnis. Juga dalam aspek skill dan attitude. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah Kota Bandung nantinya agar bisa diberikan pembinaan yang bersifat terintegrasi dalam aspek entrepreneurship, bisnis dan manajemen.
Keempat, pemerintah Kota Bandung perlu mendorong pemasaran produk-produk para pengusaha muda ini. Produk-produk mereka sangat kreatif dan sudah memberikan daya tarik bagi para konsumen mereka. akan tetapi, pada aspek pemasaran, mereka masih membutuhkan dukungan dari pemerintah.

Salah satunya adalah bagaimana mempertemukan antara pembeli dengan mereka. Kegiatan pameran produk kreatif mereka akan dapat membantu pemasaran produk mereka. dapat dilihat bagaimana tingginya minat pengunjung dalam setiap acara pameran di Kota Bandung.
Selain itu, membuat program kerjasama dengan radio, koran, majalah serta televisi yang ada di Kota bandung untuk mempromosikan produk-produk para entrepreneur.

Kelima, mengadakan perlombaan kreativitas dan inovasi para entrepreneur. kegiatan ini akan merangsang berbagai ide kreatif daripara entrepreneur. Memang seringkali diadakan kegiatan perlombaan oleh berbagai lembaga di Kota Bandung. Akan tetapi, kegiatan ini perlu digalakkan oleh pemerintah Kota Bandung itu sendiri.

Keenam, melakukan integrasi antara akademisi, para pebisnis dan pemerintah Kota Bandung itu sendiri. Kampus-kampus sudah sangat peduli dengan entrepreneurship. Bisa diilihat hampir seluruh kampus di Kota Bandung mengembangkan program entrepreneurship. Demikian juga para pebisnis, baik individu melalui perusahaan mereka ataupun melalui asosiasi seperti Kadin dan HIPMI. Keberadaan kampus dan pengusaha ini perlu dirangkul dan dibuatkan sinergisitas dalam pengembangan entrepreneurship di Kota Bandung.

Ketujuh, menjaga dan meningkatkan komitmen terhadap tumbuh dan berkembangnya entrepreneur di Kota Bandung. Komitmen ini harus terus dijaga oleh para pemimpin Kota Bandung. Waktu kepemimpinan yang lima tahun diharapkan nantinya benar-benar akan menghasilkan entrepreneur sukses dari Kota Kembang ini.

By : Meriza Hendri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>