sekolah entrepreneur

now browsing by tag

 
 

BERFIKIR STRATEJIK DAN ENTREPRENEUR SUKSES

Meriza-Hendri1-150x150
Seringkali orang bertanya kepada saya ketika memberikan sharing berupa pelatihan ataupun ceramah, baik di off air, radio ataupun TV, kenapa seorang entrepreneur itu harus berfikir stratejik, kang Meriza? Pertanyaan yang seringkali disampaikan kepada saya dan membuat saya bertanya, kenapa orang harus bertanya seperti itu?
Pertanyaannya sangat sederhana karena memang berhubungan dengan bisnis yang sudah dipilih oleh para entrepreneur. Kenapa mereka belum menyadari akan hal ini? Padahal, pemahaman akan konsep berfikir stratejik ini sangat penting untuk membuat bisnis para entepreneur bisa mencapai tujuan seperti yang direncanakan.
Saya tidak mencoba untuk berteori dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan tersebut. karena setiap orang pasti memiliki jawaban dan pandangan. Saya mencoba menjawabnya dari pengetahuan dan pengalaman selama membina entrepreneur, baik dikampus maupun di GIMB Entrepreneur dan juga di HIPMI serta berbagai daerah seperti di Jambi, samosir, Makasar, Jogyakarta dan lanin-lain.
Permasalahan ini timbul karena entrepreneur banyak yang berlatar belakang pendidikan bukan bisnis dan manajemen dan ini wajar karena tidak ada batasan yang menyatakan bahwa setiap entrepreneur harus berasal dari lulusan manajemen dan bisnis. Selain itu, konsep ini memang masih rada asing ditelinga dan aplikasikasinya bagaimana dalam konteks bisnis yang dijalankan oleh setiap entrepreneur.
Namun demikian, setiap entrepreneur sudah memilih jalan yang mungkin berbeda dengan jalan pendidikan mereka. Jalan tersebut adalah bisnis dan suka tidak suka, bisnis tersebut sangat erat hubungannya dengan ilmu manajemen. Inilah yang perlu dipahami oleh setiap entrepreneur dalam membuat bisnis mereka bisa tumbuh dan berkembang untuk jangka panjang.
Dalam konteks bisnis dan mananjemen, berfikir stratejik menjadi salah satu hal yang penting dan mendasar agar entrepreneur bisa mengoptimalkan kekuatan dan meminimalisir kelemahan serta memanfaatkan peluang dan menghindari ancaman yang datang dari lingkungan eksternal, baik mikro, makro maupun global. Inilah faktor yang paling mempengaruhi bisnis setiap entrepreneur saat ini dan yang akan datang.
Berfikir stratejik adalah bagaimana setiap entrepreneur bisa terus menganalisis lingkungan internal dan eksternal bisnisnya dalam membuat setiap keputusan bisnis yang akan diambil. Tidak bisa lagi lingkungan bisnis itu dianggap sebagai ceteris paribus, yang tidak berubah dan tidak berpengaruh terhadap bisnis mereka.
Pengetahuan tentang bagaimana berfikir stratejik ini menjadi penting diberikan kepada setiap entrepreneur. Jelas dengan keterbatasan pengetahuan tadi, membuat entrepreneur membutuhkan knowledge dan skill bagaimana berfikir stratejik tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran dan sharing tentang berfikir stratejik ini perlu diberikan kepada mereka.
Hal ini bisa diawali dengan membuat analisis lingkungan internal dan eksternal dari setiap bisnis entrepreneur itu sendiri. Mereka perlu disadarkan akan lingkungan tersebut dan bagaimana pengaruh terhadap bisnis. Sensitivity entrepreneur perlu ditingkatkan agar dapat menimbulkan kesadaran dan pengetahuan serta kemampuan dalam berfikir stratejik itu sendiri. learning by doing akan bisa mempercepat pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan memanfaatkan berfikir stratejik ini dalam bisnis mereka.

 

Tulisan ada di www.strategidanbisnis.com

Oleh

KELAS GES: ENTREPENEUR JADI AHLI STRATEGI

ges1
Inilah yang menjadi bahasan dalam kelas GIMB Entrepeneur School atau GES yang saya ajar tadi pagi. Kelas  yang memang fokus pada materi-materi akhir yang harus diberikan kepada para entrepreneur yang bermaksud untuk menjadi entrepreneur berbasis pengetahuan atau knowledge based young entrepreneur. sebenarnya, materi Ini juga sudah mereka terima minggu lalu, akan tetapi masih membahas yang bersifat umum.
Hari ini, difokuskan kepada berbagai aspek yang sangat spesifik yang harus dikuasai oleh setiap entrepreneur dalam menjalankan program manajemen sumber daya manusia atau yang lebih dikenal dengan HR Management.  Minggu lalu membahas tentang bagaimana entrepreneur perlu membahas point-point penting yang berhubungan dengan bagaimana entrepreneur harus benar-benar mengerti hakekat manajemen sumber daya manusia.

Adapun tadi pagi, membahas beberapa hal yang berhubungan dengan bagiamana entrepreneur bisa menyesuaikan dengan struktur organisasi yang ada dalam perusahaan mereka masing-masing. Struktur organisasi yang menjadi dasar untuk mencapai apa yang sudah ditetapkan sebagai sebuah tujuan dan harus dicapai dengan kinerja bisnis. Dari struktur organisasi yang tepat, akan mempermudah entrepreneur dalam menentukan job description, job specification dan rantai komando bagi setiap entrepreneur dengan karyawan mereka.
Pembahasan yang penting ketika Kang Gartiwa, Evi, Rini, Tya  dan Neng menampilkan struktur organisasi yang dimiliki oleh perusahaan mereka. struktur organisasi yang dalam konsep saya sangat mentah karena kurang memperhatikan beberapa aspek penting bagi entrepreneur dan organisasi dalam mencapai tujuan perusahaan. Fungsi-fungsi manajemen tidak diperhatikan dalam perusahaan sehingga berdampak kepada bagaimana entrepreneur tidak bisa menggerakkan semua aktivitas bisnis dengan baik.
Perbaikan dilakukan untuk setiap struktur organisasi yang ada sehingga terlihat bagiamana mereka bisa mendalami bagaimana dengan struktur organisasi ini seluruh kegiatan manajemen sumber day amanusia bisa berjalan dengan baik. Bahkan efektifitas dan efisiensi bisa dicapai oleh setiap entrepreneur dalam menjalankan bisnis. Sudah saatnya entrepreneur memulai pengeloaan sumber daya manusia dengan memperhatikan struktur organisasi mereka dengan baik.
Inilah yang menjadi bahasan utama dalam kelas GIMB Entrepeneur school tadi pagi yang Alhamdulillah, mampu memberikan value dan pengetahuan baru bagi setiap entrepreneur dalam menjalankan bisnis mereka. sudah saatnyalah mereka melakukan perubahan mendasar dalam setiap bisnis untuk mecapai tujuan.
Komitmen setiap entrepreneur sangat dibutuhkan untuk bisa membuat desain struktur organisasi dengan dasar struktur organisasi yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mencapai keunggulan bersaing dalam bisnis.
ENTREPENEURSHIP
Rasanya, pembukaan kelas GIMB Entrepeneur School pukul 11 siang tadi sungguh sangat memberikan pengalaman yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Pengalaman yang berhubungan dengan bagiamana setiap entrepreneur datang ke kelas saya dan mengharapkan materi yang sangat relevan dengan kebutuhan mereka untuk mengembangkan bisnis untuk saat ini dan yang akan datang karena begitu tingginya tingkat persaingan dengan pebisnis lainnya.
Materi yang diberikan berhubungan dengan membuka mindset setiap entrepreneur untuk sukses dalam bisnis sehingga mereka memiliki sikap mental yang kuat untuk sukses. Sikap mental yang pastinya sangat diperlukan untuk membangun bisnis. Konsep yang berhubungan dengan entrepeneruship, bisnis dan lingkungan bisnis erta manajemen yang pastinya sangat dibutuhkan entrepreneur untuk mendapatkan kesuksesan.
KELAS GES PUKUL 14.00 WIB
Kelas terakhir yang mendapatkan sharing dari kang Meriza adalah belajar tentang strategic management yang dibutuhkan oleh setiap entrepreneur untuk mengembangkan bisnis mereka. strategic management yang kemaren juga sudah diberikan oleh Kang Meriza. Konsep manajemen stratejik juga sudah diberikan sehingga persepsi mereka tentang strategic management menjadi kuat sebagai dasar menjadi ahli strategi dalam bisnis mereka.
Alhamdulillah, semuanya sudah dimulai dan dapat memberikan pandangan baru untuk setiap entrepreneur dalam menjalankan bisnis mereka masing-masing.
Inilah aktivitas seharian yang dilakukan oleh kang Meriza dalam memberikan pembelajaran kepada setiap siswa GES untuk menjadikan mereka sebagai seorang entrepreneur muda sukses berbasis pengetahuan.

BELBIZ 1 FEBRUARI: CIPTAKAN LOYALITAS KONSUMEN

1 Februari 2015

Tadi malam, program Belajar Bisnis,  Belbiz on Radio K-Lite 107,1 FM membahas tema yang penting bagi banyak entrepreneur yaitu bagaimana seorang entrepreneur harus fokus mencitpakan loyalitas konsumen yang pastinya sangat dibutuhkan oleh setiap bisnis saat ini ditengah tingginya tingkat persaingan. Setiap entrepenuer harus fokus pada loyalitas setiap konsumen yang ada. Harus untuk setiap konsumen.

Demikianlah awal bahasan yang disampaikan oleh Meriza Hendri, founder GIMB Foundation dalam sesi Belbiz. Meriza menjelaskan seringkali entrepreneur muda fokus pada peningkatkan jumlah konsumen daripada mempertahankan konsumen. “anak muda lebih terjebak pada kuantitas daripada kualitas dari setiap konsumen” katanya. Kenapa ini terjadi? Apa kerugian yang didapat oleh setiap entrepreneur ketika ini terjadi? Lalu apa yang bisa dilakukan?

Konsep loyalitas konsumen kurang dimanfaatkan dalam setiap bisnis entrepreneur. konsep yang sederhana karena pastinya sudah sering di dengar, akan tetapi, belum optimal untuk dijalankan dalam bisnis sehingga terkesan jauh dari diri setiap entrepreneur. Loyalitas konsumen bisa menjadi tool untuk mencapai competitive advantage bagi setiap entrepreneur dalam bisnis . keunggulan bersaing yang menjadi tujuan entrepreneur, kata Meriza

Loyalitas itu ada empat tingkatan yaitu bagaimana konsumen membeli produk itu kembali atau repeat order. “konsumen akan membeli produk kita kembali” kata Meriza. Dalam hal ini, produk yang sama dibeli oleh konsumen. Yang kedua adalah bagaimana konsumen membeli produk yang lain. “konsumen membeli produk yang lain dari seorang entrepreneur” kata dia. Tentu entrepreneur memiliki beberapa varian produk mereka. Hal ini menjadi pilihan konsumen.

Ketiga berhubungan dengan rekomendasi. “Konsumen akan merekomendasikan produk kepada keluarga, teman dan orang lain” katanya. Dalam hal ini, konsumen akan secara sukarela memberitahukan orang lain yang terdekat sampai terjauh untuk membeli produk-produk yang dihasilkan oleh entrepreneur. Dalam konteks ini, akan terjadi pengembangan pasar secara tidak langsung oleh setiap konsumen.

Yang terakhir adalah mereka menolak pesaing. “konsumen akan menolak pesaing” kata Meriza. Hal ini penting untuk setiap konsumen karena pesaing akan terus berusaha untuk merayu konsumen agar pindah ke mereka. tidak akan pernah berhenti upaya yang dilakukan oleh pesaing agar mereka pindah ke sana.

Kunto Aji, pemimpin cabang Bank BJB Purwakarta juga memberikan ulasan bagaimana entrepreneur bisa mencapai loyalitas konsumen. “pertama, haru melihat ke dalam diri sendiri yaitu produknya yang harus lebih baik daripada pesaing” kata Kunto. Hal ini berhubungan dengan produk yang ditawarkan oleh setiap konsumen harus lebih baik daripada yang ditawarkan pesaing. “Kedua, memahami dengan baik konsumen” katanya. Konsumen itu harus dipahami dengan baik dari aspek need, want dan demand yang selau berubah.

“Ketiga adalah bagaimana entrepreneur harus bisa melayani konsumen dengan hati” kata dia. Layani konsumen dengan hati karena dengan hati itulah seorang konsumen akan terikat dengan entrepreneur dan mereka akan susah melepaskan diri dari entrepenuer. Akan terjadi loyalitas konsumen yang tinggi untuk setiap bisnis.

Adam, seorang GIMBers juga hadir dengan membahas bisnis online yang dijalankannya. Online bisnis yang dijalankan bersama istrinya sudah mampu memberikan value bagi bisnis mereka. “loyalitas konsumen menjadi penting untuk menghadapi gempuran pesaing” katanya. Pesaing semakin menggila menghadapi setiap bisnis dan loyalitas konsumen menjadi penting.

Banyak pertanyaan  yang diajukan oleh sahabat K-Lite tadi malam dan semuanya berhubungan dengan bagaimana upaya meningkatkan loyalitas konsumen. Meriza, Kunto dan Adam memberikan jawaban dalam konteks loyalitas konsumen.

Meriza Hendri

SELF LEADERSHIP

ISMBEA-2014

“Pak Meriza, kenapa Bapak fokus memberikan sharing tentang self leadership kepada kami para mahasiswa?…….” inilah yang menjadi pertanyaan yang diberikan oleh beberapa mahasiswa yang menghadiri diskusi dan pelatihan tentang leadership bagi mahasiswa di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Materi yang bagi saya perlu bagi setiap mahasiswa dalam menjalani masa pendidikan di kampus dan bahkan bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan mereka.

 

Adapun kelas yang saya berikan pelatihan ini adalah kelas yang diisi oleh mahasiswa yang berada pada semester akhir dan mau menyelesaikan pendidikan di kampus. Pelatihan ini membahas beberapa hal yang berhubungan dengan bagaimana seorang mahasiswa menjelang kelulusan dapat memiliki leadership yang kuat dalam mengelola diri mereka sendiri dan juga orang lain nantinya, khususnya yang sudah memiliki bisnis semasa mahasiswa.

 

Self Leadership

Ketika saya memberikan pelatihan ini, sangat terasa bagaimana mereka memiliki keterbatasan dalam mengelola diri sendiri. Mereka masih mengikuti emosi dalam mengelola diri sendiri. Emosi yang saya lihat adalah mereka melakukan hal-hal yang mengikuti teman-teman orang lain. Lingkungan sangat mempengaruhi mereka, yang bisa membuat mahasiswa melakukan berbagai aktivitas yang dilakukan bersama-sama.

 

Hal ini membuat mereka seakan-akan terbuai dengan lingkungan dan pada akhirnya mereka hanya menjalankan apa adanya, tanpa memiliki arah yang jelas. Saya membahasakan secara umum MADESU yang saya sampaikan kepada mahasiswa. MADESU dengan singkatan masa depan suram bagi para mahasiswa. Sebenarnya bisa dibalikkan singkatan MADESU itu menjadi Masa Depan Sukses yang sejatinya merupakan miliki setiap mahasiswa.

 

Oleh karena itu, saya menyarankan setiap mahasiswa perlu memimpin diri sendiri sebelum menyelesaikan pendidikan di kelas. Beberapa hal yang perlu dimiliki mahasiswa adalah pertama, memiliki visi yang jelas dari setiap mahasiswa untuk masa 5 – 10 tahun yang akan datang. Visi itu merupakan impian yang harus dicapai oleh setiap orang dan harus ditetapkan dengan tegas.

Kedua, bagaimana seorang mahasiswa harus belajar dan belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan leadership. Menjadi seorang leader itu ada ilmunya sehingga diperlukan pengetahuan. Hakekat seorang leader adalah seseorang yang mampu mempengaruhi orang lain agar bisa mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Pengetahuan untuk mempengaruhi perlu dimiliki sehingga tidak hanya menjalankan saja.

 

Ada banyak sumber yang bisa digunakan untuk mempengaruhi orang lain, bisa saja dari pengetahuan, pengalaman, keterampilan, jabatan dan lain-lain. Bahkan bisa juga dari surat keputusan yang dimiliki oleh setiap orang dari atasan mereka sehingga orang lain melihat bagaimana pengaruh yang dimiliki oleh setiap orang.

 

Ketiga, bagaimana mahasiswa perlu meningkatkan keterampilan atau kemampuan mereka memimpin diri sendiri. Keterampilan dalam mempengaruhi diri sendiri sangat diperlukan. Dalam hal ini, keterampilan membuat keputusan, berkomunikasi dengan diri sendiri, memotivasi diri sendiri adalah beberapa keterampilan yang relevan dengan self leadership.

 

Keempat, bagaimana mahasiswa perlu memiliki sikap atau attitude yang benar ketika menjadi seorang pemimpin yaitu dengan tidak sombong, rendah hati, menjadi seorang pembalajar., jujur yang merupakan sikap yang harus dimiliki oleh mahasiswa.

 

 

Inilah beberapa hal yang perlu dimiliki oleh setiap mahasiswa ketika mereka bermaksud untuk mengembangkan self leadership agar bisa menjadi juara….. salam juara

 

Tulisan ada di www.juaranews.com

Diposkan oleh Meriza Hendri

 

Mengakhiri Sesuatu yang Diawali

Dalam satu diskusi kemaren, saya mendapatkan satu statement yang sangat berharga menurut saya. Statement yang bisa membuat saya tersadar. Kenapa demikian? Karena pernyataan ini mengingatkan saya tentang suatu tugas yang harus diselesaikan. 
 
Namun demikian, hal ini juga menyangkut tentang bagaimana responsibility atau tanggung jawab kita terhadap suatu pekerjaan. Tanggung jawab yang mungkin bagi sebagian orang kurang diperhatikan. akan tetapi, menjadi sangat penting untuk menentukan kesuksesan seseorang dalam bekerja tersebut. 
 
Pernyataannya sangat sederhana. Bagaimana mengakhiri sesuatu yang sudah diawali. Hmmmm…. apa maksudnya? Maksudnya adalah bagaimana suatu pekerjaan yang sudah mulai harus diselesaikan sampai akhir. Bekerja sampai akhirlah, itu kurang lebih maknanya. 
 
Pelajaran yang sangat berharga yang dapat saya ambil dari kalimat tersebut adalah kita harus bertanggung jawab dengan pekerjaan kita sendiri. Bekerja sesuai dengan rencana dan kesepakatan yang sudah dibuat. hal ini tidak mudah bagi setiap orang yang kurang memahami makna pekerjaan.
 
Oleh karena itu, marilah kita renungkan kalimat tersebut. Bekerja sesuai dengan rencana untuk mencapai tujuan. Tujuan yang sudah ditetapkan bersama. Sehingga, kita tidak dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, tetapi, orang yang bertanggung jawab dalam  pekerjaan. Sukses buat kita hari ini…
By : Meriza Hendri

I Love Business #20 Bersama MotivaKreatif Achmad Faisal

I Love Business 20 bersama Achmad Faisal

Setelah beristirahat seminggu kemarin karena dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadhan, kini program inspiring GIMB kembali hadir seperti biasa di setiap minggunya. Tidak terasa, minggu ini I Love Business GIMB sudah memasuki I Love Business yang ke 20.

 
Kali ini, I Love Business 20 mengundang Achmad Faisal sang Motivakreatif, BioActivist, dan STIFIn Consultant menjadi pembicara dengan tema “Berbisnis Ala Rosulullah”
 
Seperti fase awal para pebisnis pemula, sebelum menemukan passion bisnisnya, Achmad Faisal memulai business dengan  mencoba-coba.  Dimulai dari distro, konveksi sampai kerudung dia sempat menjualnya.
 
Kehidupan sebagai aktifis membekali dia communication skill yang memadai. Sehingga akhirnya dia menjalani profesi sebagai trainer. 
 
Pembawa acara kita Anggasa membuka acara dengan mulusnya sehingga mencairkan suasana yang sedang dingin karena hujan lebat menjadi hangat dan penuh tawa.
 
Hati, ikuti kata hati.  Begitu pesan beliau pada peserta dan sekaligus menjadi kata penutup Achmad Faisal dalam menyampaikan materi beliau.
 
I Love Business adalah salah satu program rutin yang diselenggarakan oleh GIMB Foundation setiap Senin, pukul 16.00 – 18.00 WIB di UGD (Antropology Fashion Outlet). Program ini dirancang untuk memberikan sharing pengetahuan, keterampilan dan attitude bagi para pengusaha muda dalam rangka menciptakan a knowledge based entrepreneur atau pengusaha yang berbasis pengetahuan.
Banyak entrepreneur yang sudah berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam acara ini yaitu Anne Ahira, Wiwied C59, Perry Tristianto, A Deda MQ Group, Axl Maicih, Jody Bober & J&C Cookies, Aman Kaos Kaki Soka, Abu Marlo, Agustina Restaurateur, Donie Pangestu, Anita Hairunnisa, Mr.Q STEC, Afnil Exportir, Surya Kresnanda, Herdi Produser Bandung TV, Gufron owner Uda Gembul, Riezka Rahmatiana owner Pisang Ijo Justmine dan lain-lain.
 
Acara ini gratis dan terbuka untuk umum dan bagi Anda yang berminat untuk mengikutinya, silahkan datang ke UrsGD ( Antropology Fashion Outlet ) atau mendaftar ke GIMB Foundation. Adapun GIMB Foundation adalah yayasan yang bertujuan untuk menciptakan a knowledge based young entrepreneur melalui berbagai program yang menarik yaitu GIMB Entrepreneur School, GIMB Coaching setiap Rabu dan Jumat, Field Trip ke perusahaan dan juga acara pameran dan buka stand di Car Free Day.
 
Untuk membantu pemasaran bisnis teman-teman, juga dibantu lewat website GIMB Foundation yaitu www.gimbfoundation.org, media cetak/koran dan majalah bisnis, radio dan televisi.
 
Dengan visi To Be The Most Trusted Foundation To Create A Successful Knowledge Based Entrepreneur, kami mengajak berbagai pihak untuk berkontribusi dalam berbagai program ini. GIMB Foundation beralamat di Komplek Grand Surapati Core, Blok F10 Lantai 2, Jl PHH Mustofa 39 Bandung, Telp 022-61333669.

Menciptakan Learning Organization

Perjalanan setiap organisasi adalah layaknya seperti perjalanan diri manusia juga. Perjalanan bagaimana organisasi mulai berdiri, tumbuh berkembang sampai organisasi tersebut besar. Semua itu adalah proses hidup setiap organisasi.

Satu hal yang sangat penting untuk dipahami adalah bagaimana organisasi tersebut harus terus belajar. Belajar dari apa yang dilewati adalah sangat penting. Itu yang pertama.

Proses yang dilewati oleh organisasi mengandung banyak sekali pelajaran. Inilah yang harus disadari. Kedua, pelajaran dari setiap kejadian harus di manage atau dikelola, dari creating, structuring, sharing dan applying. Itu yang disebut dengan knowledge management.

Ketiga, membangun kesadaran setiap insan dalam organisasi akan pentingnya nilai pengetahuan atas apa yang dialami dalam organisasi. Keempat, setiap karyawan mencatat apa yang dialami di organisasi. Ini penting.

Kelima, membagikan apa yang didapat tersebut kepada teman-teman anggota organisasi. Keenam, memanfaatkan setiap pengetahuan dalam organisasi melalui setiap masalah yang dihadapi organisasi.

Ketujuh, organisasi perlu menyediakan perpustakaan yang berisikan buku, majalah ataupun sumber pengetahuan lainnya. Kedelapan, perlunya mendorong anggota organisasi memberikan apresiasi bagi anggota yang terus membaca berbagai sumber pengetahuan.

Dengan menjadi learning organization, organisasi kita akan semakin maju, tumbuh dan berkembang. Sukses ya buat kita hari ini.

By : Meriza Hendri

Memperkuat Komitmen Diri

Seringkali dalam mengerjakan setiap aktivitas bisnis saat ini, orang menghadapi turun naiknya semangat dan bahkan komitmen diri. Hal ini wajar karena berhubungan dengan perubahan lingkungan. Yang dalam diri setiap individu, lingkungan itu berhubungan dengan diri dan luar.

Saya merasa perlu membahas ini kembali karena berhubungan dengan keberhasilan kita dalam bisnis. Pada akhirnya, dirasakan bahwa keberhasilan organisasi yang notabene adalah bisnis kita, sangat ditentukan oleh komitmen. Komitmen diri setiap anggota dalam perusahaan.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Pertama, kembali kepada tujuan utama diri dalam bisnis. Kedua, kembali melihat tujuan bisnis itu sendiri. Ketiga, menyelaraskan tujuan diri dengan tujuan bisnis.

Keempat, terus belajar dari orang sukses bagaimana mereka mengembangkan dan meningkatkan komitmen diri dalam bisnis.

Kelima, dalam suatu buku yang saya baca kemaren, road to success, dijelaskan bagaimana kita membuat peta jalan untuk mencapai sukses diri dan bisnis kita. Peta jalan ini penting agar tetap menjaga komitmen diri.

Keenam, memtivasi setiap karyawan untuk menjaga komitmen. Dalam buku juga yang baru, taking people with you, digambarkan bagaimana setiap pemimpin, termasuk kita, mampu membawa tim kita untuk bersama-sama menggapai mimpi. Komitmen akan muncul disana.

Ketujuh, memberikan penghargaan dari setiap capaian atas komitmen yang diberikan. Pengalam saya kemaren menunjukkan bahwa nilai diri kita sangat ditentukan oleh komitmen diri dalam pekerjaan. Sukses buat kita semua ya.

By : Meriza Hendri

Pengembangan Entrepreneur di Jawa Barat, HU Bisnis Bandung 12 Juli 2013

Pengembangan Entrepreneur di Jawa Barat

Meriza Hendri,
Mahasiswa Program Doktor Manajemen Bisnis, Unpad
Dosen Universitas Widyatama, bandung, Dewan pembina GIMB Foundation

Tingginya minat para anak muda untuk menjadi entrepreneur di Jawa Barat adalah fenomena yang sangat menarik dan patut untuk disyukuri. Perjalanan ke berbagai kota dan Kabupaten di provinsi ini menunjukkan fakta bahwa memang para anak muda di Jawa Barat ingin menjadi entrepreneur.

Namun demikian, kondisi ini perlu dicermati dengan baik. Hal ini baru sampai pada tahap minat dan sedikit yang menjalankan bisnis dengan baik. Apalagi bisnis yang bisa tumbuh dan berkembang dari mikro, kecil, menengah dan menjadi besar. Bila bisa tumbuh dan berkembang bisnisnya, barulah para anak muda memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Jawa Barat. Hal ini bukan karena ketidakmampuan mereka, tetapi, belum optimalnya sinergi dari para stakeholder di Jawa Barat untuk berintegrasi menumbuhkembangkan para entrepreneur muda tersebut.

Tiga stakeholder utama yang perlu melakukan sinergi dalam pengembangan entrepreneur muda adalah academician (akademisi), Business (para pelaku bisnis) dan Government (pemerintah) yang sering disebut dengan ABG. Selama ini, masing-masing pihak sudah melakukan pengembangan entrepreneurship di Jawa Barat.

Para akademisi di kampus dan sekolah memiliki program pengembangan entrepreneurship melalui kurikulum, pelatihan dan pembinaan melalui berbagai kegiatan mahasiswa dan siswa di kampus dan sekolah. Demikian juga para pelaku usaha yang memiliki program Corporate social responsibility (CSR) dan juga Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) oleh BUMN ataupun program yang dijalankan oleh asosiasi seperti HIPMI dan juga KADIN.

Demikian juga dengan pemerintah yang membuat berbagai kebijakan yang bersentuhan dengan pengembangan entrepreneurship tersebut. Selain kebijakan, pemerintah juga bekerjasama dengan pelaku bisnis dalam pengembangannya. Akan tetapi, kenapa hasilnya belum optimal dalam menghasilkan entrepeneur yang memiliki bisnis yang terus tumbuh dan berkembang?

Belum optimalnya sinergisitas antara para akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah dalam menumbuhkembangkan entrepreneur di Jawa Barat ini perlu menjadi perhatian. Khususnya dalam melakukan pembinaan kepada para entreprepreneur muda ini. Khusus mengenai pembinaan, pengalaman di GIMB Foundation (Gerakan Indonesia Muda Berbisnis) memperlihatkan bagaimana konsep pembinaan menjadi sangat stratejik. Hal ini adalah kerjasama dengan Jabar Media Club, Bank BJB, HIPMI Jabar dan Kadin Jabar, Bandung TV, Harian Bisnis Bandung, kampus dan berbagai pihak lainnya.

Demikian juga dengan pengalaman dalam pembinaan para Bobotohnomic yang digerakkan oleh Radio Bobotoh FM dan QP Indonusa dalam membina entrepreneur tersebut menjadi key success factor untuk menumbuhkembangkan entreprepeneur tersebut.
Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan sinergisitas ABG tersebut. Para akademisi memiliki resources yang baik dalam memberikan pelatihan dan pembinaan para entrepreneur. Diantaranya adalah dosen yang kebanyakan saat ini adalah pelaku bisnis juga, materi dan metode pengajaran dan pembinaan.

Kemudian, para praktisi yang sudah berhasil dalam bisnis mereka. Dari aspek pendanaan, ada perbankan dan perusahaan dengan dana CSR atau PKBL mereka. Dari aspek pengalaman dan relasi, ada pelaku bisnis itu sendiri dan juga HIPMI dan KADIN. Dari aspek pemasaran, ada perusahaan yang bisa berperan sebagai buyer dan media cetak dan media elektronik yang bisa membantu mempromosikan produk para entrepreneur.

Adapun dari pemerintah, memiliki wewenang dalam pembuatan regulasi untuk mendorong terciptanya stabilitas politik, ekonomi dan berbagai peraturan yang berhubungan dengan perekonomian dan juga berbagai kemudahan, khususnya dalam pendirian usaha.
Bagaimana dengan Jawa Barat? Banyak perguruan tinggi di provinsi ini. Hampir semua memiliki program pengembangan entrepreneurship. Demikian juga SMK dan sederajat. Potensi ini perlu disinergikan dengan Business dan Government.

Apalagi perusahaan di provinsi ini. Perusahaan asing dan perusahaan domestik banyak di Jawa barat. Mereka memiliki program CSR dan PKBL bagi BUMN. Belum lagi perbankan milik BUMN dan Bank BJB serta bank swasta. Program-program mereka perlu diintegrasikan dalam hal pendanaan buat entrepreneur. Apalagi KADIN Jabar dan HIPMI Jabar yang memiliki potensi untuk berbagi dengan para entrepreneur muda. Dari sisi media, ada banyak media cetak dan media elektronik yang concern kepada pengembangan entrepreneurship.

Pengalaman dalam melakukan sinergi ABG tersebut di Kabupaten Garut sudah membuktikan bahwa para entrepreneur yang sukses dengan indikator bisnis yang terus tumbuh dan berkembang tersebut memang sangat efektif. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Bank BJB dan Kadin Garut sebagai business, Pemerintah Garut sebagai Government dan Universitas Widyatama sebagai academician.

Setahun setelah pelatihan dilaksanakan, para entrepreneur sudah memiliki bisnis yang jauh lebih baik dibandingkan sebelum mereka mendapatkan pelatihan dan pembinaan selama tiga bulan dan dilanjutkan dengan pemantauan kepada mereka.

Oleh karena itu, potensi dari akademisi, pebisnis serta pemerintah Jawa Barat serta Kabupaten/Kota perlu dioptimalkan sinergi nya untuk mendapatkan entrepreneur muda yang memiliki bisnis selalu tumbuh dan berkembang sehingga memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian Jawa Barat. .

Jalani, Baru Ajarkan Kepada Karyawan Kita

Tadi pagi, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Imam Ghazali yang disampaikan oleh Bapak Mahfud MD. Pelajaran yang relevan dengan saya sebagai dosen ataupun entrepreneur yang memiliki tugas memberikan sharing pengetahuan. Apa itu? Pelajaran tentang apa yang kita ajarkan kepada orang lain, termasuk binaan dan juga karyawan kita.

Dalam pembelajaran tersebut, disebutkan bahwa bagaimana Imam Alghazali ditanya oleh jamaah tentang bagaimana membebaskan atau memerdekakan hamba sahaya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, jamaah harus menunggu waktu dua tahun, barulah seorang beliau menjawab pertanyaan jamaah tersebut. Jawabannya sangat sederhana karena sudah diketahui oleh banyak orang.

Akan tetapi, Imam Alghazali menjelaskan bahwa saya membutuhkan waktu dua tahun untuk menjawabnya karena selama itu beliau menjalankan bagaimana caranya dan rasanya membebaskan hamba sahaya. Subhanallah… inilah pelajaran pertama yang saya dapat dari kisah tersebut.

Bagaimana kita menjalani hal apa yang akan kita ajarkan kepada orang lain. Tidak boleh hanya mengajarkan apa yang belum pernah kita ajarkan kepada orang lain. Hal ini sangat penting karena berhubungan dengan perubahan perilaku orang lain. Perilaku tersebut harus dirubah dengan contoh langsung oleh kita yang mengajarkan kepada tim kita, konsumen kita dan stakeholder lainnya.

Jadi, marilah kita pahami apa pelajaran dari Imam Alghazali tersebut untuk mengajarkan sesuatu, lebih baik kita rasakan dulu, kita jalankan dulu, kita pahami dan hayati sehingga orang yang menerima materi dari kita dapat merasakan bahwa orang yang mengajarkan itu juga sudah menjalankannya.

By : Meriza Hendri