TIPS MENGATASI STRESS BAGI ENTREPRENEUR

manajemen stress

Bagi seorang pengusaha, banyak tanggal merah adalah “bencana”. Lain lagi bagi para karyawan, tanggal merah adalah “anugerah”. Setidaknya itulah stress yang dialami salah seorang pengusaha muda dan siswa GIMB Entrepreneur School (GES), saat berbincang menghadapi bulan Mei, bulan terbanyak tanggal merah di tahun 2015.

Menghadapi deadline pengerjaan produksi memang tak mengenal ampun dan toleransi. Sebagai bentuk tanggung jawab,  pelayanan prima, dan orientasi kepuasan pelanggan, seorang pengusaha harus berusaha memenuhi setiap penyelesaian order dengan tepat waktu. Keterlambatan satu menit saja, sudah menjadi wanprestasi yang mencoreng nama baik diri dan perusahaan.

 

Masa jelang deadline inilah yang seringkali menjadi masa-masa kritis yang membebani pikiran dan perasaan para pengusaha. Masa-masa yang selalu membuat sport jantung. Masa inilah yang biasanya menjadi sumber pemicu  stress para pengusaha. Lantar bagaimana solusinya?

Setidaknya ada dua kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Pertama, kemampuan hard skill, seperti dalam hal manajemen produksi dan manajemen SDM, mulai dari perencanaan produksi, penentuan bahan material, penentuan jumlah dan kemampuan SDM, membuat timeline, penggunaan alat, hingga finishing dan delivery.

Kedua, kemampuan soft skill. Nah dalam tulisan saya kali ini, karena ruangnya sangat terbatas, saya menitikberatkan pembahasan pada faktor kemampuan soft skill seorang pengusaha menghadapi masa kritis pemicu stress. Pada dasarnya, stress digolongkan ke dalam 2 jenis, yaitu stress positif dan stress negatif.

Stress positif adalah stress dalam tingkatan kecil hingga menengah. Dalam level ini, stress dapat “dimanfaatkan” untuk meningkatkan performa kerja, memacu adrenalin secara positif dan produktif, sehingga bisa mencapai target secara efektif dan efisien. Seseorang bila tanpa ada stress, justru malah berakibat negatif, seperti kejenuhan, tidak produktif, dll.

Sedangkan, stress negatif terjadi dalam tingkatan menengah ke tinggi. Dalam level ini, seseorang kesulitan untuk mengendalikan pikiran dan perasaannya, sehingga terjadi emosional dan fisiknya terganggu (“hang otak”). Akibatnya bisa mengarah pada kegelisahan (anxiety), depresi, tekanan darah tinggi, dan bisa melakukan hal-hal tak terkontrol yang berbahaya.

Solusinya, pertama tindakan fisik seperti, melakukan relaksasi, teknik pernafasan, ke luar dari rutinitas, yoga, dll. Kedua, tindakan non fisik, dengan melakukan Brain Management. Prinsipnya adalah mengurangi aktivitas neocortex (pikiran), dengan menurunkan frekuensi otak hingga ke kondisi alpha (8-12 Hz), dan mengaktivasi hati, menariknya ke dalam perasaan positif, sehingga pikiran kembali positif.

Agus Santoso, Founder GIMB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.